By : Ivanda Alkin – Mahasiswa Universitas Siber Asia
Nim : 250501010059
Bekerja di Jerman, melanjutkan studi di Australia, atau membangun karier di Singapura, menjadi tenaga kerja asing di jepang kian dekat bagi generasi muda. Informasi semakin mudah lewat media sosial, kita dapat menemukan cerita orang Indonesia yang bekerja di luar negeri, informasi beasiswa, perbandingan pendapatan, hingga potret kehidupan profesional di negara lain. Derasnya arus informasi tersebut, pada awal 2025 muncul satu kalimat ramai diperbincangkan di media sosial dengan tagar “ #KaburAjaDulu”. Tagar ini terdengar sederhana, bahkan sedikit bercanda. Namun, di balik kata “kabur” tersimpan persoalan yang jauh lebih kompleks tentang pekerjaan, harapan, kekecewaan, dan gambaran kehidupan yang ingin dibangun generasi muda. Survei YouGov Indonesia pada Februari 2025 yang diberitakan detikEdu menunjukkan bahwa 41 persen Gen Z Indonesia mempertimbangkan kemungkinan pindah ke luar negeri dalam beberapa tahun ke depan. Angka itu lebih tinggi dibandingkan Milenial sebesar 31 persen, Gen X 26 persen, dan Baby Boomers 12 persen. Sehingga “#KaburAjaDulu” sulit dipandang hanya sebagai lelucon di media sosial. Pertanyaan yang kemudian muncul bukan lagi sekadar, “Mengapa anak muda ingin pergi?” Ada pertanyaan yang lebih personal ketika peluang di luar negeri terlihat lebih menjanjikan, apakah seseorang pergi karena benar-benar mengetahui masa depan yang ingin dibangun, atau sekadar ingin menjauh dari keadaan yang mengecewakan?
Kabur atau Sedang Mencari Ruang untuk Tumbuh?
Dr. Hempri Suyatna dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menilai fenomena ini tersebut adalah bentuk sikap kritis sekaligus sindiran generasi muda terhadap kondisi yang mereka rasakan. Pengalaman belajar dan bekerja di negara lain dapat membuka kesempatan memperoleh pengetahuan, jaringan, dan pengalaman baru. Persoalan muncul ketika talenta berkualitas tidak lagi melihat alasan untuk kembali atau berkontribusi di Indonesia sehingga mobilitas berubah menjadi persoalan brain drain.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia pada Februari 2025 sebesar 4,76 persen, sementara rata-rata upah buruh berada pada sekitar Rp3 juta per bulan (Statistik, 2025). Meskipun Data ini belum bisa dijadikan acuan untuk menyimpulkan bahwa seluruh Generasi Z (angakatan kelahiran 1997- 2012) ingin pergi karena persoalan ekonomi, tetapi cukup memberi gambaran bahwa pilihan karier generasi muda muncul di tengah kompetisi kerja dan pertimbangan finansial yang nyata. Dengan kata lain, keinginan untuk pergi dapat berasal dari pertemuan antara masalah dunia nyata dan peluang global yang juga nyata. Oleh karena itu, mengatakan bahwa setiap orang yang ingin pindah ke luar negeri adalah “lari dari masalah” sama dengan mengatakan bahwa pindah ke luar negeri akan membawa kehidupan yang lebih baik. Yang penting adalah alasan dan kesiapan untuk membuat keputusan tersebut
Antara Realita dan Feed: Mengapa Luar Negeri Terlihat Lebih Menarik?
Dalam satu layar dari media sosial, seseorang bisa melihat gaji pekerja di Jepang, transportasi publik Singapura, keseharian mahasiswa di Australia, atau cerita orang Indonesia yang berhasil membangun karier di Eropa. Konten yang biasa dikonsumsi setiap hari bisa membuka wawasan dan memberikan inspirasi. Namun, layar juga memiliki keterbatasan kita sering melihat bagian kehidupan yang dipilih untuk ditampilkan, bukan seluruh proses yang dialaminya. Penelitian Bazine, Serra, Giunchi, dan Peña-Jimenez yang terbit dalam Computers in Human Behavior pada 2025 menemukan bahwa aktivitas membangun jaringan melalui media sosial dapat berkaitan dengan upward social comparison, yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih berhasil (Bazine et al., 2025).
Penelitian Maharani dan Merida pada 164 pengguna aktif Instagram dari kelompok Gen Z usia 20-28 tahun menemukan hubungan positif yang kuat antara social comparison dan quarter-life crisis (Maharani & Merida, 2025). Semakin tinggi kecenderungan seseorang membandingkan dirinya dengan orang lain, semakin tinggi pula kecenderungan mengalami krisis pada fase awal kedewasaan. Bukan media sosial menyebabkan Gen Z ingin meninggalkan Indonesia. Media sosial disisi lain dapat membuka berbagai kemungkinan baru. Semakin luas pilihan yang terlihat, semakin penting kemampuan untuk membedakan antara aspirasi pribadi dan keinginan yang lahir dari perbandingan.
Sebelum Pergi, Seberapa Baik Kita Mengenal Diri?
Di titik inilah Kecerdasan Emosional (Emotional Intelligence) menjadi relevan. Daniel Goleman menjelaskan lima komponen utama yang berkaitan dengan kecerdasan emosional, yaitu self-awareness, self regulation, motivation, empathy, dan social skill. Kemampuan tersebut tidak hanya berhubungan dengan bagaimana seseorang memahami perasaannya, tetapi juga bagaimana ia mengelola diri dan membangun hubungan dengan orang lain. Dalam fenomena #KaburAjaDulu, self awareness dapat dimulai dari pertanyaan sederhana “Mengapa saya ingin pergi?” Apakah karena ingin membangun karier internasional, meningkatkan pendapatan, memperoleh pengalaman, atau mengembangkan kemampuan? Atau keinginan tersebut muncul karena baru saja gagal mendapatkan pekerjaan dan merasa kehidupan orang lain jauh lebih baik?
Kekecewaan merupakan bagian wajar dari pengalaman manusia, tetapi keputusan besar sebaiknya tidak lahir dari emosi sesaat.
Di sinilah self regulation berperan, terutama ketika pilihan untuk pergi ke luar negeri juga menuntut kesiapan bahasa, kontrak kerja, biaya hidup, adaptasi budaya, dan kondisi mental. Kecerdasan emosional membantu seseorang membedakan keputusan yang berani dengan tindakan yang impulsif. Kemampuan ini tetap dibutuhkan setelah seseorang berada di negara tujuan. Perbedaan budaya, pola komunikasi, dan lingkungan kerja menuntut empathy serta social skill agar seseorang mampu beradaptasi dan membangun hubungan yang sehat. World Economic Forum dalam The Future of Jobs Report 2025 juga menempatkan motivasi, kesadaran diri, empati, dan kemampuan mendengarkan sebagai keterampilan penting di dunia kerja (Economic, 2025).
Emotional Intelligence dalam Manajemen: Ketika Talenta Muda Memilih Pergi
Ketika dilihat dari perspektif manajemen karyawan muda memilih mengundurkan diri karena mendapatkan kesempatan bekerja di Singapura atau Jepang, respon paling mudah mungkin berkata, “Anak muda sekarang tidak loyal.” Namun, seorang manajer dengan kecerdasan emosional akan mengajukan pertanyaan yang berbeda: “Apa yang ia temukan di tempat lain yang belum bisa ia temukan di organisasi ini?”. Jawabannya belum tentu hanya gaji. Bisa jadi seseorang mencari kesempatan belajar yang lebih besar, jalur karier yang jelas, lingkungan kerja yang sehat, penghargaan atas kontribusi, atau pemimpin yang mampu mendengarkan. Survei Deloitte 2025 terhadap 23.482 responden Gen Z dan Milenial di 44 negara menunjukkan bahwa pertumbuhan karier bagi generasi muda tidak lagi semata-mata berarti naik jabatan. Hanya 6 persen responden yang menjadikan posisi kepemimpinan sebagai tujuan karier utama. Kesempatan belajar, keamanan finansial, makna pekerjaan, dan kesejahteraan menjadi bagian penting dalam cara mereka memandang karier (Faber, 2025).
Pergi Sejauh Apa Pun, Manusia Tetap Membawa Dirinya
Perspektif humanis mengajak kita melihat lebih dalam daripada keputusan akhirnya. Hal yang lebih penting bukan hanya Mengapa ingin meninggalkan Indonesia tetapi juga apa yang sedang dicari sampai merasa perlu menemukannya di tempat lain. Ke depannya, fenomena #KaburAjaDulu seharusnya tidak berhenti sebagai perbincangan viral di media sosial.
Bagi generasi muda, tren ini dapat menjadi momentum untuk melakukan refleksi diri, menyusun tujuan karier yang lebih jelas, meningkatkan keterampilan, memperkuat kemampuan bahasa, memahami budaya negara tujuan, serta memastikan setiap kesempatan kerja atau pendidikan ditempuh melalui jalur yang aman dan resmi.
Di sisi lain, perguruan tinggi, perusahaan, dan pemerintah juga memiliki ruang untuk menindaklanjuti keresahan tersebut. Kampus dapat memperkuat layanan pengembangan karier dan kesiapan kerja global. Perusahaan perlu membangun lingkungan kerja yang memberi kesempatan belajar, pengembangan karier, dan kepemimpinan yang lebih manusiawi.
Pemerintah pun perlu memastikan bahwa generasi muda memperoleh informasi yang mudah diakses mengenai peluang kerja internasional, peningkatan kompetensi, serta mekanisme migrasi yang aman. Sehingga, mobilitas ke luar negeri tidak hanya dipandang sebagai kehilangan talenta, tetapi dapat diarahkan menjadi proses pembelajaran, pengembangan kapasitas, dan pertukaran pengetahuan.
Harapannya, generasi muda tidak perlu memilih antara “kabur” atau “bertahan” secara tergesa-gesa. Yang lebih penting adalah memiliki Emotional Intelligence untuk memahami alasan, mengelola emosi, menilai konsekuensi, dan menentukan tujuan secara sadar.
Pergi ke luar negeri dapat menjadi proses bertumbuh ketika seseorang mengetahui apa yang ingin dicapai dan siap bertanggung jawab atas pilihannya. Kita generasi muda boleh mencari masa depan sejauh apa pun. Namun sebelum menentukan ke mana akan pergi, mungkin ada satu tempat yang perlu dipahami lebih dahulu yaitu diri sendiri. Dari sanalah keputusan untuk pergi, kembali, maupun bertahan dapat menjadi pilihan yang benar-benar disadari, bukan sekadar reaksi terhadap keadaan.
Referensi :
Bazine, N., Serra, J., Giunchi, M., & Peña-Jimenez, M. (2025). The negative consequences of networking through social network services: A social comparison perspective. Computers in Human Behavior, 162, 108456. https://doi.org/10.1016/j.chb.2024.108456
Economic, W. (2025). The Future of Jobs Report 2025. World Economic Forum. https://www.weforum.org/publications/the-future-of-jobs-report-2025/
Faber, E. (2025).
Gen Zs and millennials at work: Pursuing a balance of money, meaning, and well-being. In Deloitte Insights. https://www.deloitte.com/us/en/insights/topics/talent/2025-gen-z-millennial-survey.html
Maharani, P. K. G. K., & Merida, S. C. (2025).
Social Comparison and Quarter-Life Crisis in Generation Z: A Study of Instagram Users. Developmental and Clinical Psychology, 6(1), 28–39. https://doi.org/10.15294/dcp.v6i1.31974
Statistik, B. P. (2025). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,76 persen. Rata-rata upah buruh sebesar 3,09 juta rupiah. In Badan Pusat Statistik. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2025/05/05/2432/labour-situation.html.





























Comment